“Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal…” — QS. Yusuf: 111 Ada sesuatu yang berbeda saat mengha...

From History to Memory: Experiencing Syawal in the Soul of Madinah

9:10 PM Azzuraniarna 0 Comments

 “Sesungguhnya pada kisah-kisah itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal…”

QS. Yusuf: 111

Ada sesuatu yang berbeda saat menghabiskan hari-hari Syawal di Madinah. Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan yang terlihat, tetapi juga keheningan yang terasa — keheningan yang berbicara tentang sejarah, perjuangan, dan cinta yang begitu dalam terhadap Sang Pencipta. Setelah gemuruh Ramadan yang penuh semangat ibadah berpamitan, Syawal hadir menyapa dengan ketenangan yang tak biasa, seperti pelukan hangat: tenang, lembut, dan menyentuh. Menapaki jalan-jalan yang dulu pernah dilewati Nabi dan para sahabat. Madinah tidak banyak bicara, tapi setiap diamnya menyentuh. Dan di tengah Syawal yang hening, aku merasa seperti sedang menapaki bukan hanya tempat, tapi kenangan yang hidup.

---------------------------

Melanjutkan cerita di postingan sebelumnya, setelah kembali ke Madinah itu qadarullah nenek dan gue mulai terserang penyakit bapil alias batuk flu. Mungkin karna pas itikaf di Mekkah kemarinnya kita duduk di lantai yang ber alaskan sajadah travel yang tipis itu aja ditambah cuaca dingin didalam masjid. Walaupun udah minum vitamin jg tiap hari, tapi tetep aja kena sakit fufu. Sejak saat itu kami mulai bapil.. Tapi alhamdulillahnya waktu itu di Madinah ada semacam tenda untuk cek kesehatan jamaah yang lagi sakit gitu, keknya ini tenda sementara aja, mungkin karena mengingat bulan2 Ramadhan banyak orang yang umrah jadi dari pemerintah Saudi nya ngadain ini secara gratis untuk jamaah umroh

Seasonal Medical Center Madinah

Akhirnya kita coba ke sana, setelah solat ied, ternyata belum buka pagi, dia baru buka sore ke malam gitu, jadinya setelah solat maghrib kita coba cek. Tempatnya teratur banget dari pendaftaran, cek dokter sampe dapet obat. Karena keterbatasan bahasa, dan beberapa petugas kesehatan juga dokternya gabisa bahasa inggris, jadilah kita komunikasi pake aplikasi penerjemah, yang penting dokternya ngeh keluhan yang kita rasakan biar gak salah diagnosis dan kasih obat. Di cek tensinya, suhunya, tenggorokannya, dll. Terus kita di kasih resep dan langsung di arahkan ke tempat pengambilan obatnya, untungnya apotekernya bisa bahasa inggris jadi kita dijelaskan cara minum obatnya.. Dan diakhir pun gaada tagihan biaya, semuanya gratis alhamdulillah

Pengambilan Obat

Oh ya waktu kita di Madinah ini kurang lebih seminggu lagi, setelah alhamdulillah merasakan Ramadhan dan hari raya di Madinah, kemudian kita merasakan syawal juga di Madinah. Berbeda seperti di Indonesia, dimana pas hari raya dan syawalan ini biasanya berkunjung ke rumah saudara2, silahturahmi lebaran dll. Tapi disini kita hanya ber 4 aja, paling pas hari raya nya ada kumpul bareng jamaah Al Buraq buat makan lontong opor bareng yang disediakan dari travelnya. Tapi terus udah pada melaksanakan agenda masing2, belanja oleh2, kulineran di Madinah, jalan2 ke thaif, city tour sendiri dll. Sebenernya ada city tour juga dari travel tapi baru di akhir2 kepulangan.

Kamipun mencoba berbagai macam makanan dan minuman viral di Madinah😋karena memang baru sempet bener2 kuliner pas syawal ini, pas Ramadhan kemaren fokus ibadah di masjid aja sama ngabisin perbekalan dari Indonesia, karena emg perbekalan di niatin abis pas Ramadhan biar pas syawal kita bisa jajan2 hehe, dan ini dia kurang lebih yang kita makan, masih banyak lagi sih sebenernya, tp ini udah cukup mewakili lah ya wkwk. Ada waktu itu, pas lebaran ke 2 sepupu gue tiba2 kepengen banget makan nasi padang, akhirnya nyarilah makan nasi padang, brp tau harganya? 35 riyal alias 150rb an, waw nasi padang termahal yang pernah dimakan sih ini wkwkw

Kulineran di Madinah

Terus kita coba bolak balik ke Masjid Quba setelah subuh untuk solat duha disana sekalian olahraga pagi. Karena mumpung di Madinah jadi memanfaatkan pahala setara umrahnya itu klo ke Masjid Quba hehe. Lumayan untuk ke Masjid Quba berjalan kaki sekitar 4 KM atau sekitar 1 jam, kadang kita juga coba jalan malam abis isya ke masjid Qubanya, tapi ini karena cuaca ber angin kalo malam, jadi nenek tinggal di Hotel. Dan ternyata kota ini semakin malam semakin rame, kalo siang sepi banget. Bahkan toko2 itu aktif dan rame pas malam hari, pas pagi dan siangnya sepi bahkan cuman dikit banget yang buka. Terus nyoba naik buggy car jg ke masjid Qubanya dengan bayar 10riyal per orang. Tadinya mau coba sewa sepedah gitu, tapi gajadi, next deh ya coba sewa sepeda (semoga Allah mengizinkan untuk balik lagi ke Madinah amiinnn) hehe.

Terus kita juga menelusuri toko2 untuk mencari oleh2 bagus tapi murah hehe, sampe pas hari ke 3 Syawal kita coba cari tempat wisata disekitar Madinah yang bagus, tadinya mau wisata ke Thaif tapi Thaif lebih deket dari Mekkah, akhirnya kita memutuskan untuk mencari travel di Madinah untuk one day trip ke Al Ula, biar lebih murah ngajak jamaah lain juga. Singkat cerita kita dapet travel AL Mutanafisun, dapet dari toktok, dan Alhamdulillah adminnya gercep, pesen malem besok pagi nya udah bisa brangkatt, asikkk😁

Kamis, 3 April 2025
Waktunya tiba untuk berangkat ke Al Ula, menapaki sejarah lain di Madinah. Kami berangkat sekitar jam setengah 9 waktu Madinah menggunakan mobil Hiace yang berkapasitas 12 orang, Alhamdulillah travel ini punya orang indonesia yang di kelola di Madinah kalau ada jamaah Indo yang mau jalan2 ke Thoif, Al Ula, dll. Perjalanan yang kami tempuh ke Al Ula sekitar 4 jam. Selama perjalanan muthowif menjelaskan terkait sejarah kota Al Ula ini, gmn tempat Al Ula ini yang dilarang oleh Rasulullah untuk mendatanginya karena ada kisah orang terdahulu yang melanggar perintah Allah dan sampai akhirnya Allah adzab dengan menghancurkan kotanya, tapi fun fact nya hanya tempat2 tertentu yang memang dilarang dikunjungi kecuali dengan menangis (terkait ini ada hadistnya, nanti bisa cb cari ya). Dan tempat2 yang kita kunjungi bukan termasuk itu jadi aman. beberapa tempat yang kita kunjungi ada Old Town, Daimumah, Shalal Cafe dan Elephant Rock.

Al Ula Trip

Tapi sayangnya kita gabisa menikmati sunset di Elephant Rock karena kebetulan tempat itu mau ada acara dari Kerajaan Saudinya, jadi kita gabisa masuk kesana huhu. Akhirnya cuman bisa poto2 di luar, yowis yang penting udah banyak koleksi poto yang bagus sekalian menapaki sejarah yang pernah ada, karena baru tau tentang Al Ula ini kalau gak kesini hehe..

Besok harinya barulah kita city tour yang diadakan sama travelnya, pergi ke Masjid Quba (lagi), gaada bosennya sih karena selain banyak keistimewaannya, masjid Quba juga merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah di Madinah, arsitektur bangunannya pun lumayan bagus😃. Terus kami pun juga ke kebun kurma, sekalian belanja oleh2 kurma muda, dan destinasi terakhir di city tournya adalah menapaki sejarah perang uhud ke bukit uhud, yang dimana peristiwa perang uhud ini adalah salah satu sejarah yang cukup fenomenal, kekalahan kaum muslim karena tidak mendengarkan perintah Rasulullah. Kemudian mengunjungi makam para syuhada ketika perang uhud, dll. Maasyaallah banyak banget ilmu dan pelajaran yang di dapetin selama di Madinah ini.

City tour Madinah

Perjalanan city tour kali ini cuman sebentar, kurang lebih setengah hari aja, karena mepet ke Jumatan. Kitapun yang cewe2 juga persiapan untuk Jumatan, sekalian menikmati hari2 terakhir di Madinah sebelum akhirnya besok kita sudah pergi huhuhu😭Berangkat jumatan itu padahal baru jam setengah 11 dan waktu solat itu masih 2 jam lagi, tapi kondisi masjid udah penuh banget maasyaallah, kita sampe gak kebagian didalam, akhirnya di pelataran, untungnya cuaca gak panas2 banget, karena kita gak kebagian di karpetnya, jadi di lantai ber alaskan sejadah aja.

Setelah Jumatan, kita kembali ke hotel untuk istirahat dan packing persiapan pulang besok paginya. Dan yaa inilah perjalanan lebaran dan syawalan di Madinah yang mengajarkan banyak hal, tentang ketenangan, kesyukuran, dan keabadian sejarah yang hidup. Dari sejarah yang agung hingga memori yang tak terlupakan, Madinah telah menjadi bagian dari perjalanan jiwaku. Dan meskipun waktu akan terus berjalan, kenangan Syawal di Madinah akan selalu menjadi cahaya yang membimbingku, di mana pun aku melangkah.

Dan dari sejarah yang kutatap, kini lahir memori yang kupeluk...

Waktu semakin sempit dirasa, untuk mengakhiri perjalanan di Haramain, dan kami pun bersiap untuk pergi meninggalkannya...


Next Story yaa...

0 komentar: